Aika
AIKA`S BIRTH STORY
Detik2x kehadiran Bidadari Kecil ku
Sengaja kutulis segores cerita bagi buah hati tercinta Aika Putri agar kelak di kemudian hari ia dapat mengetahui perjuangan mama dan papanya menjelang detik2x kelahirannya.
Introduction:
Memasuki tahun baru 2004, kami berdua mulai mempersiapkan kehadiran buah hati kami. Baik persiapan secara fisik seperti barang2x yang akan dibawa ke rumah sakit, maupun persiapan secara mental yang tentunya lebih berat. Kesiapan seorang calon bapak yang harus menemani dan menguatkan istri tercinta. Kesiapan seorang calon ibu yang harus berjuang dengan taruhan nyawa.
Seperti yang sudah aku rencanakan, semua urusan penyelesaian thesis S3 sudah aku selesaikan sehingga waktu di masa penantian ini sengaja kucurahkan untuk mempersiapkan kelahiran putriku yang youtebi (perkiraan lahir) nya adalah tanggal 8 Januari. Dalam masa penantian ini kami berdua sering menonton video kelahiran yang pasti akan bermanfaat pada saat kelahiran nanti. Istriku membaca buku dan majalah2x persiapan kelahiran dalam bahasa Indonesia. Aku juga tak mau ketinggalan membaca buku yang sama tapi dalam bahasa Jepang karena pasti banyak istilah2x kedokteran yang harus aku pelajari. Maklumlah kalau istilah2x teknik mungkin aku hafal luar kepala, tapi kalau istilah kedokteran….wakaranai (tidak tahu).
(Thanks for Arsi fam and Bandi fam for your book and advice)
Day one : Sat, 10th Jan, The Quite Day
Waktu terus berlalu hingga lewat dari youtebi tidak ada tanda2x apapun pada istriku. Kami berdua mulai sedikit gelisah menanti tanda2x ini. Lalu tibalah saat itu, salah tanda kelahiran yaitu munculnya bercak darah. Di pagi yang dingin di musim fuyu (winter) sekitar pukul 04.00, istriku membangunkanku, “Pa, sudah berdarah”, katanya. “Banyak?”tanyaku. “Sedikit pa”, jawabnya. “Ya udah, bobo lagi aja dulu. Besok pagi2x sekali kita berangkat ke byoin (RS)”. Dalam salah satu buku yang aku baca memang ditulis, kalau pendaharan hanya sedikit dan muncul di malam hari, sebaiknya tunggu pagi hari untuk ke byouin. Istriku kembali tidur, sementara aku mempersiapkan barang2x yang akan kami bawa.-
Sekitar pukul 8 pagi kami bangun dan setelah beres2x kami berangkat menuju Midori Shimin Byoin (rumah sakit midori shimin) yang hanya berjarak sekitar 5 menit dari rumah kami. Kebetulan hari itu hari Sabtu jadi rumah sakit sepi sekali. Kami langsung ke bagian persalinan di lantai 4. Walau libur, ternyata dr. Aoyama, dokter kandungan istriku stand by di rumah sakit. Menurutnya baru bukaan 2, tapi dia menyarankan untuk nyuuin (masuk rumah sakit). Kami langsung diantar menuju jintsu shitsu (ruang kontraksi) yang dekat dengan bunben shitsu (ruang bersalin). Ruangannya sangat kecil sekali (3×4 m), tapi lengkap dengan wastafel, toilet dan peralatan monitor detak jantung bayi dan grafik kontraksi. Istriku mulai merasakan kontraksi yang membuatnya meringis kesakitan walau intervalnya tidak selalu sering. Menjelang siang hari, dokter jaga (wanita) memeriksa istriku dengan agak kasar sehingga membuat istriku kesakitan dan trauma untuk diperiksa lagi. Hasil pemeriksaannya tidak menunjukan perubahan pada bukaan, sehingga kami dipindah dari jintsu shitsu ke ruang biasa. Ruangan ini terdiri dari 4 tempat tidur, lengkap dengan lemari pakaian, lemari es kecil dan TV pada masing2x tempat tidur. Seharian ini kami meluangkan waktu dengan ngobrol2x seputar bayi kami. Selain itu kami juga sibuk memberi tahu keluarga di Jkt & Solo dan mengirim pesan sms kepada teman2x di Nagoya.
Setelah makan malam, seorang kangofu (perawat) mengatakan bahwa kami harus pindah ke jintsu shitsu dan tidur di sana. Mungkin maksudnya agar tidak mengganggu pasien lainnya dengan rintihan kesakitan karena kontraksi. Interval kontraksi semakin sering datang dan istriku mulai kembali merintih kesakitan. Aku berusaha sedikit meringankan sakitnya dengan memijat pinggang istriku.
Setelah pulang untuk mandi dan makan malam, aku kembali ke jintsu shitsu dan menemani istriku di sana. Istriku menyuruh aku tidur bersamanya di tempat tidur, tapi aku memilih untuk tetap duduk di kursi. Malam pertama ini kami masih bisa sedikit beristrirahat walau harus sesekali terbangun karena rintihan istriku.
Day two : Sun, 11th Jan, The worry
Memasuki hari ke-2 tidak ada perubahan yang berarti pada keadaan istriku. Siang hari ada pemeriksaan ke-2 dan ternyata memang bukaan tidak bertambah sama sekali. Dokter memutuskan untuk memberi pil yang bisa merangsang kontraksi. Pengaruh obatnya langsung bereaksi dengan bertambah seringnya kontraksi terjadi walau masih belum teratur, kadang 10 menit kadang 20 menit sekali. Menurut pengalaman teman2x kami seperti Anita dan Arsi, untuk mempercepat turunnya bayi akan lebih baik banyak jalan2x dan turun tangga. Maka seharian ini di saat kontraksi istriku tidak datang, kami jalan2x mengelilingi rumah sakit dan juga turun tangga (naik tangga dilarang). Sore hari ketika pemeriksaan lagi, ada sedikit kemajuan dengan bertambah lebarnya bukaan menjadi 4cm. Walau senang kami mulai khawatir karena lambatnya bukaan, apalagi kontraksi tetap terus muncul. Bibil dan Anita, sahabat kami juga mulai mengkhawatirkan kondisi istriku. Istriku sendiri mulai melemah kondisinya, selain karena sakitnya kontraksi juga karena makanan rumah sakit sama sekali tidak disentuhnya. Malam hari, sakit karena kontraksi semakin bertambah kuat, tapi menurut suster sakitnya masih 50%, karena dia melihat istriku masih bisa menahan sakit. Menurut suster jika the real contraction datang sakitnya benar2x tidak bisa ditahan. Kelihatannya istriku takut akan datangnya the real contraction sehingga ia menahan sakit bukan datang menjemput sakit tersebut. Istriku mulai merengek-rengek untuk minta di caesar karena dia sudah mulai tidak bisa menahan sakit. Malam ini kami melewati malam yang lebih berat dari malam kemarin. Hampir setiap 30-40 menit istriku terjaga karena kontraksi yang mulai datang secara kontinu. Istriku mulai rewel dan sebentar2x minta diperiksa lebar bukaan, sementara menurut suster yang jaga lebar bukaan masih tetap sama karena memang kontraksi belum sepenuhnya datang. Untung saja ini di Jepang, coba kalau di Indonesia pasti tidak ada suster2x yang sesabar dan sepenuh perhatian seperti suster2x di sini.
Day three : Mon, 12th Jan, The Hard Day
Memasuki hari ketiga kami sudah mulai merasa lelah, sedangkan bayi yang ada dalam kandungan Ossy amat sangat sehat. “Totemo genki”, begitu selalu kata suster setelah memeriksa kondisi bayi kami. Walaupun sedikit lega, perasaan khawatir tetap bergelayut di dada melihat kondisi istriku yang menahan sakit selama 3 hari. Istriku sendiri sudah mulai tidak bisa bersabar melihat tidak adanya perkembangan bukaan, ia kembali minta untuk dioperasi saja (caesar). Dan aku membicarakan hal ini kepada suster yang memeriksanya.
Sugiura family, orang tua angkatku datang menjenguk siang ini. Mereka kaget melihat tidak adanya perkembangan yang berarti pada istriku. Melihat kondisiku yang kelihatannya capek tidak tidur dan makan tidak teratur, okaasan (ibu) menggantikan aku sementara menjaga istriku. Sambil menunggu otoosan (ayah) membelikan aku makan siang, aku merebahkan diri sejenak di dalam mobil. Otoosan, okaasan, kokoro yori kansha wo itashimashu. Tanpa mereka mungkin kami tidak akan sekuat ini. Mereka benar2x bagaikan pengganti keluarga kami di Indonesia. Setelah istirahat dan makan siang, badanku segar kembali dan siap kembali menjaga istriku dan bayi kami yang masih malas keluar. Kebetulan saat ini adalah musim dingin di Jepang jadi mungkin dia lebih senang di dalam rahim ibunya yang hangat.
Sore harinya dokter Aoyama datang dan memeriksa istriku. Lalu ia menanyakan soal operasi, rupanya ia sudah diberitahu suster tentang keinginan kami. Aku menjelaskan tentang kondisi istriku yang semakin lemah sementara tidak ada perkembangan yang berarti pada bukaan istriku. Dokter Aoyama menjelaskan bahwa biar bagaimanapun kelahiran yang normal adalah yang terbaik. Dari hasil pemeriksaannya, semuanya berjalan normal walau bukaan agak lambat. Ia mohon aku, terutama istriku untuk bisa bersabar dan berjanji untuk memberikan induksi besok pagi2x sekali. Induksi ini adalah pemberian obat melalui infus untuk mempercepat proses kontraksi. Dari hasil pembicaraan ini aku baru tahu bahwa, karena 3 hari ini libur maka tidak ada dokter anestesi, dokter bedah dan dokter2x lainnya kecuali dokter jaga sehingga dokter Aoyama tidak berani ambil resiko untuk memberikan induksi atau operasi caesar. Aku menyampaikan hal ini kepada istriku dan yappari (seperti yang kuduga) istriku protes. Demi kebaikannya dan bayi kami, aku memohon istriku untuk bisa menerima hal ini. Dan akhirnya ia bisa menerimanya.
Malam hari ketiga ini merupakan malam yang paling berat. Selain sakit pada bagian perut, istriku mulai merasa sakit pada bagian pinggang dan punggung. Aku berusaha meringankan beban dengan memijit pinggang dan punggung istriku. Menurut suster bukaan istriku sudah bertambah 1 cm dan kontraksi sudah mulai menguat. Kami sudah tidak bisa tidur malam ini karena nyeri pinggang dan punggung makin sering menyerang istriku. Istriku disarankan untuk duduk di kursi khusus yang bentuknya seperti kuda2x an, lalu aku memijiti dari belakang. Ada satu lagi perkembangan baru, istriku merasa ingin, maaf, buang air besar (BAB) atau mengejan. Mungkin diantara yang lainnya, hal satu ini yang paling berat bagi istriku. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya orang yang ingin BAB tapi harus bisa menahan diri. Aku tiba2x teringat pada video kelahiran yang diberikan oleh murid bahasa Indonesiaku, ny.Koizumi. Dalam video itu ada latihan pengaturan nafas untuk menghadapi hal tsb. Aku lalu minta istriku untuk mengikuti aku..hih..hih..huh… hih..hih..huh…dst… Ketika perasaan untuk mengejan timbul. Suster juga memberi saran untuk menekan dengan tangan pada bagian maaf, vagina. Situasi ini terus berlangsung sampai menjelang pagi.
Day Four : Tue, 13th Jan, The Birth
Pagi2x sekali sekitar jam 6, dokter Aoyama sudah muncul dan seperti janjinya ia memberikan induksi pada istriku. Saat itu istriku sempat meminta, tepatnya mengancam, kalau sampai jam 12.00 siang belum lahir maka operasi caesar harus dilakukan. Begitu cairan infus masuk, kontraksi semakin menghebat dan perasaan untuk mengejan semakin kuat sehingga walau malu aku tetap menekan bagian vagina agar istriku tidak mengejan. Setiap istriku akan berteriak kesakitan aku mengingatkan untuk mengambil nafas yang teratur..hih..hih..huh.. hih..hih..huffh..dst… Selain mengurangi sakit, pengaturan nafas ini juga bisa mengurangi tenaga yang terbuang. Istriku kelihatannya sudah setengah sadar, aku sendiri berusaha untuk tetap tenang dan selalu memimpin istriku untuk mengatur nafas. Sesekali aku kembali menghibur istriku dan juga mengajaknya berdoa.
Otoosan dan okaasan datang sekitar jam 10 pagi dan menawarkan untuk menggantikan aku menjaga Ossy. Tapi melihat keadaan istriku dan juga kelahiran bayi kami yang bisa lahir setiap saat, aku terpaksa menolak kebaikan mereka.
Menjelang tengah hari, josanpu (bidan) yang akan membantu kelahiran istriku memeriksa kandungan dan bukaan. Kelihatannya sang bayi sudah mulai turun ke jalan lahir. Segera setelah pemeriksaan ia menyiapkan bunben shitsu yang letaknya berseberangan dengan jintsu shitsu. Tak berapa lama dokter Aoyama pun hadir. Rupanya induksi yang diberikan sejak pukul 6 pagi itu berpengaruh sangat cepat sekali.
Tepat pukul 12, dengan dituntun bidan Shimizu dan aku, kami memasuki ruang bersalin. Selain dokter Aoyama dan bidan Shimizu, ada satu dokter wanita yang berada di sana. Aku berdiri di sebelah kanan, dokter wanita berdiri di sebelah kiri dan dokter Aoyama siap mengeluarkan bayi kami. Begitu Rosita berbaring di sana, air ketuban pecah dan dimulailah proses persalinan.
Dengan diberi aba2x oleh dokter Aoyama, Ossy mulai mengejan. Aku sambil memegang tangan istriku berusaha menguatkannya sekaligus mengingatkan untuk tetap membuka mata di saat mengejan. Aku tidak tahu kenapa pada saat mengejan mata harus tetap terbuka, mungkin kalau terpejam ada kemungkinan sang ibu akan kehilangan kesadaran. Sampai kurang lebih 5 kali istriku berusaha untuk mengeluarkan bayi kami tapi mungkin karena kondisi istriku sudah lemah karena merasakan sakit 3 hari ditambah dengan makan yang tidak teratur, bayi kami belum berhasil keluar juga. Dokter Aoyama meminta persetujuanku untuk menggunakan vaccum dan aku menyetujuinya. Sekali lagi dengan aba2x dari dokter Aoyama, Ossy mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa dan dengan bantuan vaccum akhirnya buah hati kami hadir menyapa dunia.
Tepat pukul 12.34 bersamaan dengan turunnya salju putih, buah hati kami berteriak dengan suara lantang… Aku menggenggam erat tangan istriku dan mengecup keningnya. Kami tak dapat melukiskan berkecamuknya hati kami. Bahagia dan Syukur atas KaruniaNya bercampur aduk menjadi satu. Terimakasih Tuhan, bersama dengan Bunda Maria, Engkau hadir menemani dan menguatkan kami merasakan mukjizatMu. Terimakasih dokter Aoyama dan suster2x di Midori Shimin Byoin yang dengan kesabarannya membantu kami berdua melewati masa2x sulit.
Bidadari salju kami langsung tidur di dada ibundanya, sementara aku memandang dengan perasaan bahagia ke dua orang yang aku cintai.
BERNADETTE AIKA PUTRI PRABANDINI. Nama bidadari kecil kami yg lahir dgn berat 29,62 gr dan panjang 50 cm. BERNADETTE adalah nama permandian yang kami ambil dari Santa Bernadette, santa yang melihat penampakan Bunda Maria di Lourdes France. Sesuai janji kami pada Bunda Maria pada saat berdoa memohon buah hati di Lourdes France. Kemudian AIKA, yg berarti “Bunga Cinta” kami ambil dari kanji Ai yang berarti cinta dan Hana yang berarti bunga. PUTRI, yg berarti Princess. Dan terakhir PRABANDINI adalah nama titipan eyang kakungnya, yang menurut cerita adalah nama bidadari yang pertama kali turun ke bumi. Eyang Kakungnya memberi nama ini krn Aika adalah cucu perempuan pertama di kel. Ossy dan cucu pertama di keluargaku.
Aku keluar dan mengabarkan kebahagiaan ini pada ke dua orang tua angkat yang menunggu sejak pagi. Walau ada perasaan sedih jauh dari ke dua orang tua kami, tapi dengan kehadiran otoosan dan okaasan perasaan itu sedikit terobati. Setelah itu aku menghubungi keluarga Jakarta dan Solo, juga teman2x kami yang berada di Jepang. Mereka semua turut merasakan kebahagiaan yang kami rasakan.
Terimakasih untuk Sugiura otoosan dan okaasan, anda berdua benar2x menggantikan kehadiran ke dua orang tua kami. Juga Obaasan dan Ojiisan, Shiori, Keiko obachan family yang selalu memberi dukungan moril.Tuhan pasti akan membalas ketulusan dan budi baik Sugiura family. Terimakasih untuk Ani Keraf yang langsung datang menjenguk Osi pada saat baru masuk rumah sakit. Om Bibil and Nte Anita yang ikutan khawatir. Rm. Bruno yang langsung memberkati bidadari kecil kami. Sr.Cecilia dan Sr.Katrinia yang sudah memberi info ttg nama santa Bernadette. Juga terimakasih untuk Ichihara san, Kawai san dan teman2x Pelajar Indonesia di Nagoya.
Tetes salju turun bak kapas melayang-layang di langit biru..
Mengiringi turunnya bidadari kecil kami..
Ada kehangatan berpendar di sekelilingnya..
Mencairkan penantian panjang..
Semerbak mewangi bunga cinta..
Mengalir ke relung2x jiwa..
Memberikan kebahagiaan tak berujung..
Memberikan pesona yang tak tergantikan..
Kasihku, bidadariku,…
Selamat datang di dunia ini..
Kami sambut kehadiranmu
Dengan penuh cinta yang tulus..
Nagoya, 13 Januari 2004
Papa dan mama
posted by: Papa


